Judul : Bermain Lebih Baik daripada Nonton TV
Penulis : 'athif Abul 'Id, Muhammad Sa'id Marsa
ISBN : 978-602-8512-15-2
Tebal : 127 halaman
Lini : Cinta
Tahun terbit : 2014
Harga : Rp 41000,-
     
“Anakku dididik oleh Naruto,” ujar seseorang. “Aku memang orang tuanya Naruto, karena anak saya menjelma jadi Naruto,” tutur lainnya. Benarkah demikian? & & & Sri Andayani (1997) melakukan penelitian terhadap beberapa film kartun Jepang, seperti Sailor Moon, Dragon Ball, dan Magic Knight Ray Earth. Ia menemukan bahwa film tersebut banyak mengandung adegan antisosial (58,4%) daripada adegan prososial (41,6%). Hal ini sungguh ironis, karena film tersebut bertemakan kepahlawanan. Studi ini menemukan bahwa katagori perlakuan antisosial yang paling sering muncul berturut-turut adalah berkata kasar (38,56%), mencelakakan (28,46%), dan pengejekan (11,44%). Sementara itu katagori prososial, perilaku yang kerapkali muncul adalah kehangatan (17,16%), kesopanan (16,05%), empati (13,43%), dan nasihat 13,06%). & & & Tayangan televisi untuk anak-anak tidak bisa dipisahkan dengan film kartun. Karena jenis film ini sangat populer di lingkungan mereka, bahkan tidak sedikit orang dewasa yang menyukai film ini. Jika kita perhatikan, film kartun masih didominasi oleh produk film import. Tokoh seperti Batman, Superman, Popeye, Mighty Mouse, Tom and Jerry, atau Woody Woodpecker begitu akrab di kalangan anak-anak. Begitu pula film kartun Jepang, seperti Doraemon, Candy Candy, Sailor Moon, Dragon Ball, dan lain-lain sangat populer dan bahkan mendominasi tayangan stasiun televisi kita. Sayangnya di balik keakraban tersebut, tersembunyi adanya ancaman. & & & Gencarnya tayangan telev
 
 
 
buku baru
katalog
inspirasi
buku tamu
marketing
Contact Us
 
 
 
 
   
 
 
:
:

 
   
 
 
Locations of visitors to this page